Rabu, 20 September 2017

Suro

MALAM  SATU SURO
(Muslim/Jawa wajib baca)

Masyarakat Jawa zaman dahulu dipimpin oleh seorang Sultan di Negeri  Mataram. Sultan tersebut merupakan cucu dari Panembahan Senopati bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Menurut sejarah, beliau adalah raja terbesar dinasti Mataram. Pada masa pemerintahannya tidak ada satupun penjajah yang berani mengusik daerah kekuasaanya. Bahkan VOC Belanda pun pernah di gempur dan di kepung di Batavia (Jakarta) selama bertahun tahun oleh prajuritnya. Barak para prajurit Mataram di Jakarta sekarang dikenal dengan nama "Matraman" dari kata Mataraman.

Sultan Agung sebagai raja besar membuat Kalender Jawa yang mengacu pada pergerakan bulan mengelilingi Bumi (Sama dengan kalender Hijriyah/Islam). Bulan pertama pada penanggalan Jawa disebut dengan bulan "Suro" maka malam menjelang tanggal 1 Suro disebut sebagai "Malam Satu Suro" (Malam ini).

Masyarakat Jawa sangat menghormati malam satu suro. Bentuk penghormatannya bahkan malam ini banyak dikeramatkan, dan memiliki daya magis yang sangat luarbiasa.

Pada malam ini pula, banyak masyarakat Jawa yang mengisinya dengan berbagai macam ritual diantaranya:

1. Jamasan Pusaka
2. Topo Bisu
3. Topo kunkum
4. Tirakatan

Dari berbagai macam bentuk ritual tersebut, masih banyak ritual lainnya yang tidak bisa penulis cantumkan.

Sudah menjadi tradisi bahwa laki-laki Jawa selalu dibekali/memiliki sebuah gaman atau pusaka, baik dari keturunan maupun mendapatkannya sendiri.

Malam satu suro biasanya digunakan untuk menjamas seluruh pusaka tersebut, karena diyakini bahwa dengan menjamas maka daya magisnya akan lebih kuat, selain sebagai bentuk perawatan pada fisik senjata tersebut.

Bentuk ritual berikutnya adalah topo bisu, secara filosofi dimaksudkan sebagai upaya mawas diri, selama tahun sebelumnya. Dengan harapan, esok pada tahun baru akan lebih baik dari tahun berikutnya.

Selanjutnya adalah topo kungkum, biasanya dilakukan disungai besar kolam besar sebagai simbol penyucian diri secara fisik dan non fisik, dengan harapan akan lebih bersih kehidupannya nanti di tahun baru.

Ritual berikutnya adalah "Tirakatan", kata ini berasal dari bahasa arab " Torikoth" atau Jalan. Biasanya dilakukan dengan tidak tidur semalam suntuk, dan digunakan untuk mendekatkan diri pada Alloh SWT.

Begitu dasyatnya, begitu agungnya ajaran para leluhur kita di Pulau Jawa dan Nabi Muhammad. Maka menurut penulis "Sangat Rugi" jika kita tidak memperingatinya, atau paling tidak memberitakannya.

Bandingkan dengan tahun baru nasional/masehi? Hanya malam yang dipenuhi kembang api yang hanya berdurasi 30 menit saja tanpa ada filosofi yang mendalam dibandingkan dengan Malam satu suro/Tahun Baru Islam dan Jawa.

Jika anda orang Islam maka anda akan mensyiarkannya. Jika anda orang Jawa maka anda akan meramaikannya. Karena Malam satu suro adalah Tahun Baru bagi Seorang Muslim dan Orang Jawa.

Apabila anda hidup berkeluarga ajaklah keluarga untuk melakukannya dan jika anda memiliki organisasi/paguyuban maka kewajiban moral ada pada anda dan pengurusnya. Namun pilihan ada pada diri anda....

SELAMAT TAHUN BARU ISLAM DAN TAHUN BARU JAWA

Mohon maaf lahir dan Bathin. Jika bermanfaat silahkan sebarkan tulisan ini.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan