(22-Sya'ban-1447)
Tukar Tarikh
Sebarkan
Pahang: Kuantan, Pekan, Rompin, Muadzam Shah
Isyak
Imsak
10-Feb-2026
11-Feb-2026
11-Feb-2026
(23-Sya'ban-1447)
Count Down
8
hari lagi24
hari lagi38
hari lagi96
hari lagi105
hari lagiZon Sama
- Bandar Muadzam Shah
- Bandar Tun Abdul Razak
- Beserah
- Bukit Bangkung
- Bukit Cemingat
- Bukit Cini
- Bukit Condong
- Bukit Gayung
- Bukit Geliga Besar
- Bukit Gerek
- Bukit Hulu Beruang
- Bukit Hulu Malun
- Bukit Hulu Pauh
- Bukit Ibam
- Bukit Kerisik
- Bukit Mesah
- Bukit Pengorak
- Bukit Perlah
- Bukit Peta
- Bukit Sah
- Bukit Salung
- Bukit Sembilan
- Bukit Sulai
- Bukit Tanjung Gelang
- Bukit Tanjung Putus
- Bukit Tapakuk
- Bukit Tembeling
- Bukit Tenggek
- Bukit Tergantong
- Bukit Tok Hat
- Bukit Tok Majid
- Bukit Wah Hing
- Daerah Kuantan
- Daerah Pekan
- Daerha Rompin
- Gambang
- Gancung
- Gunung Beremban
- Gunung Besar
- Gunung Hulu Kemapan
- Gunung Hulu Tiang
- Gunung Lerek
- Gunung Serudum
- Hutan Rizab Tanjung Gelang
- Jeram Takar
- Kampung Aur
- Kampung Bakapur
- Kampung Balak
- Kampung Baluk Baru
- Kampung Basuk
- Kampung Batu Balik
- Kampung Batu Hitam
- Kampung Beluru
- Kampung Bukit Seruk
- Kampung Cerating
- Kampung Ceruk Paluh
- Kampung Dagun
- Kampung Denai
- Kampung Gading
- Kampung Gambir
- Kampung Gelugur
- Kampung Hulu Air Hitam
- Kampung Jawa
- Kampung Kacah
- Kampung Kasing
- Kampung Kedaik
- Kampung Kempadang
- Kampung Kincir
- Kampung Kuala Cini
- Kampung Kuala Penur
- Kampung Kujung
- Kampung Lamir
- Kampung Leban Condong
- Kampung Marhum
- Kampung Menteling
- Kampung Merlak
- Kampung Paluh Rumih
- Kampung Paya Bungur
- Kampung Pelak
- Kampung Pelindung
- Kampung Petuh
- Kampung Pianggu
- Kampung Pulau Lanjut
- Kampung Pulau Telunjuk
- Kampung Rambai Sebunga
- Kampung Ru Bongkok
- Kampung Seberang Baluk
- Kampung Sepat
- Kampung Sungai Karang Darat
- Kampung Sungai Miang
- Kampung Sungai Tanam
- Kampung Sungai Ular
- Kampung Tanah Putih
- Kampung Tanjung Batu
- Kampung Tanjung Lumpur
- Kampung Tanjung Pulai
- Kampung Tanjung Selangor
- Kampung Teluk
- Kampung Teluk Baharu
- Kampung Temai Hilir
- Kampung Terlang
- Kemai
- Kuala Mentiga
- Kuala Mercung
- Kuala Pahang
- Kuala Rompin
- Kuantan
- Ladang Tavy
- Ladang Tong Ah
- Ladang Valentia
- Ladang Wan Fuat
- Ladang Yap Foh Sen
- Ladang Yee Kong
- Lubuk Tengkawang
- Merabang Tanjung Ru
- Merabang Tiung
- Merabang Tok Lembik
- Mercung
- Mount Tapis
- Nenasi
- Padang Geruda
- Padang Tebing Tinggi
- Pancing
- Patah Keladan
- Paya Hulu Pancur
- Paya Tanah Merah
- Paya Tanjong Medang
- Paya Tasek Pelindong
- Paya Tebing Tinggi
- Paya Teluk Malim Buaya
- Paya Tok Gading
- Pekan
- Permatang Tadok
- Permatang Tebing Tinggi
- Pulau Laut Teluk
- Pulau Syed Hassan
- Pulau Tambang
- Pulau Tanjung Putus
- Pulau Teja
- Pulau Teja Kechil
- Pulau Temai
- Pulau Tengku Muda
- Pulau Tok Gaduh
- Pulau Ubah
- Simpang Pulau Manis
- Sungai Anak Endau
- Sungai Aur
- Sungai Bebar
- Sungai Belat
- Sungai Endau
- Sungai Hulu Gambang
- Sungai Hulu Jekatih Besar
- Sungai Hulu Jekatih Kechil
- Sungai Hulu Pukin
- Sungai Jekatih
- Sungai Jeram
- Sungai Keratung
- Sungai Kuantan
- Sungai Lembing
- Sungai Lepar
- Sungai Mentiga
- Sungai Mercung
- Sungai Pahang
- Sungai Penur
- Sungai Pukin
- Sungai Rasau
- Sungai Reman
- Sungai Riau
- Sungai Rompin
- Sungai Takadung
- Sungai Takar
- Sungai Talah Layang
- Sungai Tanam
- Sungai Tanggui
- Sungai Tanggung
- Sungai Tangkak
- Sungai Tangkal
- Sungai Tanglung
- Sungai Tebang Kepung
- Sungai Tebu Hitam
- Sungai Teknau
- Sungai Tekujuh
- Sungai Telegung
- Sungai Temakung
- Sungai Temang
- Sungai Temanggil
- Sungai Temaris
- Sungai Temauk
- Sungai Temomoh
- Sungai Tempas
- Sungai Tempek
- Sungai Tempinis
- Sungai Tengalung
- Sungai Tengelung
- Sungai Tengging
- Sungai Tengkelan
- Sungai Tengras
- Sungai Tepakuk
- Sungai Tepesuk
- Sungai Terapai
- Sungai Teras
- Sungai Terbing
- Sungai Terepai
- Sungai Tereuk
- Sungai Teritip
- Sungai Terlang
- Sungai Ternigang
- Sungai Teroh
- Sungai Terpes
- Sungai Tersap
- Sungai Teruh
- Sungai Tikam Badak
- Sungai Tilan
- Sungai Timun
- Sungai Tinggus
- Sungai Tipah
- Sungai Titi Kaduk
- Sungai Tok Majid
- Sungai Tongking
- Sungai Tualong
- Sungai Tukas
- Sungai Tulang
- Sungai Tulang Gajah
- Sungai Tunggak
- Sungai Tuntun
- Sungai Ulu Kerpa
- Sungai Ungka
- Tali Air Tok Baharin
- Tali Air Tuan Hakim
- Tanjung Batu
- Tanjung Gelang
- Tanjung Tembeling
- Tasik Cini
- Telok Baharu
Popular
- Wilayah Persekutuan: Kuala Lumpur, Putrajaya, KL
- Selangor: Gombak, Petaling, Sepang, Hulu Langat, Hulu Selangor, Rawang, Kajang, Shah Alam, Puchong, Subang Jaya
- Johor: Johor Bharu, Kota Tinggi, Mersing
- Kelantan: Bachok, Kota Bharu, Machang, Pasir Mas, Pasir Puteh, Tanah Merah, Tumpat, Kuala Krai, Mukim Chiku
- Pahang: Kuantan, Pekan, Rompin, Muadzam Shah
- Pulau Pinang, Penang, Butterworth, Bagan, Kepala Batas, Bertam, Jawi
- Sabah: Kota Kinabalu, Ranau, Kota Belud, Tuaran, Penampang, Papar, Putatan, Pantai Barat
- Selangor: Klang Dan Kuala Langat
- Selangor: Kuala Selangor, Sabak Bernam
- Negeri Sembilan: Jelebu, Kuala Pilah, Rembau
Di Saat Aisyah Difitnah....
Hadis Saidatina Aisyah r.a isteri Nabi s.a.w katanya:
Apabila Rasulullah s.a.w ingin musafir, baginda biasanya mengadakan undian di kalangan isteri-isterinya. Sesiapa yang bernasib baik dialah yang akan keluar bersama Rasulullah s.a.w. Saidatina Aisyah berkata: Rasulullah s.a.w membuat undian di kalangan kami untuk memilih siapakah yang akan turut serta ke medan perang. Tanpa diduga undi akulah yang berjaya. Lalu aku keluar bersama Rasulullah s.a.w.
Peristiwa ini berlaku selepas turunnya ayat hijab. Aku dibawa dalam Haudaj (sebuah bilik kecil untuk perempuan yang diletakkan di atas unta). Bilik inilah aku ditempatkan selama berada di sana. Setelah Rasulullah s.a.w selesai berperang, kami terus pulang. Kami berhenti rehat buat seketika di suatu tempat yang berhampiran dengan Madinah. Sebaik sahaja tiba waktu malam kami diminta supaya meneruskan perjalanan.
Pada waktu yang sama aku bangkit dan berjalan jauh dari pasukan tentera. Apabila selesai membuang air besar aku kembali ke tempat kelengkapan perjalanan. Ketika aku menyentuh dadaku mencari kalung, ternyata kalungku yang diperbuat dari manik Zafar (berasal dari Zafar, Yaman) hilang. Aku kembali lagi ke tempat tadi mencari kalungku sehingga aku ditinggalkan dalam keadaan tersebut. Sementara itu beberapa orang lelaki yang ditugaskan membawaku mengangkat Haudaj ke atas unta yang aku tunggangi kemudian terus pulang. Pada sangkaan mereka aku berada di dalamnya.
Saidatina Aisyah berkata: Wanita pada waktu itu semuanya ringan-ringan, tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu gemuk kerana mereka hanya memakan sedikit makanan menyebabkan para sahabat tidak terasa berat ketika membawa serta mengangkat Haudaj. Apatah lagi aku pada waktu itu seorang gadis. Mereka membangkitkan unta dan terus berjalan.
Sebaik sahaja mereka bertolak aku bertemu kalung yang kehilangan tadi. Aku pergi ke tempat perhentian mereka semasa berperang, namun tidak seorang pun yang ada di sana. Lalu aku kembali ke tempat perhentianku dengan harapan mereka sedar kehilanganku dan kembali mencariku. Ketika berada di tempatku, aku terasa mengantuk dan terus tertidur.
Kebetulan Safuan bin Al-Muattal As-Sulami Az-Zakwani telah ditinggalkan oleh pasukan tentera supaya berangkat pada awal malam sehinggalah dia sampai ke tempatku pada pagi tersebut. Dalam kesamaran dia terlihat seorang manusia sedang tidur. Dia menghampiriku dan didapati aku yang tidur di situ. Dia mengenaliku kerana pernah melihat aku sebelum hijab diwajibkan kepadaku.
Aku tersedar oleh ucapannya [Inalillahi wa inalilahirajiun] ketika dia mengetahui bahawa aku tidur di situ. Aku segera menutup wajahku dengan kain tudung. Demi Allah! Dia tidak bercakap dengan aku dan aku juga tidak mendengar kata-katanya walaupun sepatah selain ucapannya [Inalillahi wa inalilahirajiun] sehinggalah dia meminta aku menunggang untanya. Tanpa membuang masa aku terima pelawaannya dan terus naik dengan berpijak di tangannya, lalu beredar dalam keadaan dia menarik unta sehinggalah kami berjaya mendapatkan pasukan tentera yang sedang berhenti rehat kerana panas terik.
Celakalah penuduhku dan orang yang tetap dengan keangkuhannya iaitu Abdullah bin Ubai bin Salul.
Setelah sampai di Madinah, aku jatuh sakit di Madinah selama sebulan setelah ku kembali. Sementara itu orang ramai sedang menyebarkan fitnah daripada pereka cerita bohong tetapi aku sendiri tidak mengetahuinya. Aku mula resah setelah Rasulullah s.a.w kelihatan berubah malah aku tidak lagi merasakan kelembutan Rasulullah s.a.w yang biasanya aku rasakan ketika aku sakit.
Rasulullah s.a.w cuma masuk mengucapkan salam kemudian bertanya: Bagaimana keadaanmu? Suasana ini menyebabkan aku semakin gelisah kerana bagiku, aku tidak melakukan keburukan. Setelah penyakitku beransur sembuh, aku keluar bersama Ummu Mistah ke tempat buang air besar. Ianya adalah tempat yang biasa kami kunjungi untuk membuang air besar dan kami hanya keluar pada waktu malam. Keadaan ini berterusan sehinggalah kami membina tandas berhampiran dengan rumah kami. Kamilah orang arab yang pertama membina tandas untuk bersuci. Akhirnya kami merasa terganggu dengan tandas tersebut yang di bina berhampiran dengan rumah kami.
Suatu hari aku keluar bersama Ummu Mistah binti Abu Ruhmi bin Al-Muttalib bin Abdul Manaf. Ibunya adalah puteri Sakhrin bin Amir ibu saudara Abu Bakar As-Siddiq r.a, anaknya bernama Mistah bin Usaasah bin Abbad bin Al-Muttalib. Setelah kami selesai buang air besar aku berjumpa dengan anak perempuan Abu Ruhmi berhampiran rumahku. Tiba-tiba Ummu Mistah terpijak pakaiannya lalu melatah sambil berkata: Celaka Mistah!
Aku berkata kepadanya: Apakah engkau mencela seorang lelaki yang syahid dalam peperangan Badar.
Dia menjawab: Wahai Saidatina Aisyah: Tidakkah engkau mendengar apa yang dia katakan?
Aku menjawab: Tidak, apakah yang dia katakan?
Lantas Ummu Mistah menceritakan kepada aku tuduhan pembuat cerita bohong. Mendengar cerita itu, sakitku bertambah kuat. Setelah sampai di rumah Rasulullah s.a.w masuk menjengukku. Baginda mengucapkan salam kemudian bertanya: Bagaimana keadaanmu?
Aku menjawab: Apakah engkau izinkan aku berjumpa dua orang tuaku?
Pada saat itu aku ingin kepastian tentang berita tersebut dari dua orang tuaku. Selepas mendapat keizinan daripada Rasulullah s.a.w, aku segera pulang ke rumah orang tuaku. Sebaik sahaja sampai di sana, aku bertanya ibuku: Mak, apakah cerita yang disebarkan oleh orang ramai mengenai diriku?
Ibuku menjawab: Wahai anakku! Tabahkanlah hatimu! Demi Allah berapa orang sahaja wanita cantik berada di samping suami yang menyayanginya dan mempunyai beberapa orang madu tidak difitnahkan, bahkan ramai yang dilontarkan fitnah terhadapnya.
Aku berkata: Maha suci Allah s.w.t! Apakah sampai begitu sekali orang ramai memfitnah ku?
Aku terus menangis pada malam tersebut dan tidak lagi mampu menahan air mata. Aku tidak dapat tidur sehingga pada pagi keesokannya, aku masih lagi dalam keadaan demikian.
Setelah beberapa ketika Rasulullah s.a.w memanggil Ali bin Abi Talib dan Usamah bin Zaid untuk membincangkan perceraian dengan isterinya. Ketika itu wahyu tidak diturunkan. Usamah bin Zaid memberi pertimbangan kepada Rasulullah s.a.w tentang penjagaan Allah terhadap isteri baginda dan kemesraan Nabi terhadap mereka sambil berkata: Wahai Rasulullah! Mereka adalah keluargamu. Kami cuma mengetahui apa yang baik.
Manakala Ali bin Abi Talib pula berkata: Allah tidak menyulitkan kamu malah wanita selain daripadanya masih ramai. Jika engkau bertanyakan pembantu rumah pun, tentu dia akan memberikan keterangan yang betul.
Saidatina Aisyah berkata: Lantas Rasulullah s.a.w memanggil Barirah (pembantu rumah) dan bertanya: Wahai Barirah! Apakah engkau pernah melihat sesuatu yang meragukan tentang Aisyah?
Barirah menjawab: Demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran. Sekiranya aku melihat sesuatu padanya, nescaya aku tidak akan menyembunyikannya. Dia tidak lebih dari seorang gadis muda yang sering tertidur di samping adunan roti keluarganya sehinggalah binatang ternakan seperti ayam dan burung datang memakannya.
Saidatina Aisyah berkata: Kemudian Rasulullah s.a.w berdiri di atas mimbar meminta pertolongan untuk membersihkan segala fitnah yang dilontarkan oleh Abdullah bin Ubai bin Salul.
Saidatina Aisyah berkata lagi: Rasulullah s.a.w bersabda semasa berkhutbah: Wahai kaum Muslimin! Siapakah yang ingin menolongku dari orang yang sanggup melukai hati keluargaku? Demi Allah! Apa yang aku ketahui hanyalah kebaikan. Beberapa orang telah menyebut tentang seorang lelaki yang aku ketahui bahawa dia seorang yang baik. Dia tidak pernah masuk berjumpa isteriku kecuali bersamaku.
Lalu Saad bin Muaz Al-Ansariy bangun berkata: Aku yang akan menolongmu daripada orang itu wahai Rasulullah. Jika dia daripada golongan Aus aku akan memenggal lehernya dan sekiranya dia dari kalangan saudara kami daripada golongan Khazraj, perintahkanlah aku nescaya aku akan melaksanakan segala perintahmu itu.
Saidatina Aisyah berkata: Mendengar kata-kata tersebut lantas Saad bin Ubadah bangun. Dia adalah penghulu golongan Khazraj, seorang yang soleh tetapi kadang-kadang dia cepat radang kerana bongkak. Dia menjawab kepada Saad bin Muaz: Engkau bohong! Demi Allah engkau tidak dapat membunuhnya dan tidak mampu untuk membunuhnya!
Lalu Usaid bin Hudair sepupu Saad bin Muaz bangun menjawab kepada Saad bin Ubadah: Engkau bohong! Demi Allah, kami akan membunuhnya. Engkau seorang munafik yang membela orang-orang munafik.
Maka terjadilah pertengkaran hebat antara golongan Aus dan Khazraj, sehingga mereka hampir membunuh antara satu sama lain. Rasulullah s.a.w masih tetap berdiri di atas mimbar. Rasulullah s.a.w tidak henti-henti menenangkan mereka sehinggalah mereka terdiam kerana melihat Rasulullah s.a.w diam.
Saidatina Aisyah berkata: Melihat keadaan itu aku menangis sepanjang hari. Air mataku tidak berhenti mengalir dan aku tidak dapat tidur sehinggalah pada malam berikutnya. Dua ibu bapaku menganggap tangisanku itu boleh membawa kepada terbelahnya jantungku.
Ketika ibu bapaku menunggu aku, seorang perempuan Ansar datang meminta izin menemuiku. Setelah aku mengizinkannya, dia terus masuk lalu duduk sambil menangis.
Saidatina Aisyah berkata: Ketika itu Rasulullah s.a.w masuk memberi salam, lalu duduk bersama aku. Saidatina Aisyah berkata: Baginda tidak pernah berbuat demikian sejak berlakunya fitnah terhadapku sebulan yang lalu. Wahyu juga tidak diturunkan kepada baginda mengenai keadaanku.
Saidatina Aisyah berkata: Rasulullah s.a.w mengucapkan Dua Kalimah Syahadah ketika duduk kemudian bersabda: Wahai Aisyah! Aku ketahui berbagai cerita telah diperkatakan tentang dirimu. Jika engkau memang tidak bersalah, Allah pasti tidak akan menyalahkan kamu. Tetapi seandainya engkau bersalah, pohonlah keampunan daripada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya kerana sesungguhnya apabila seorang hamba mengaku berdosa, kemudian bertaubat nescaya Allah pasti akan menerima taubatnya.
Saidatina Aisyah berkata: Sebaik sahaja Rasulullah s.a.w selesai bersabda, aku bertambah sedih sehingga tidak terasa air mataku menitis. Aku berkata kepada ayahku: Jelaskanlah kepada Rasulullah s.a.w mengenai apa yang baginda katakan.
Ayahku menjawab: Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang harus dijelaskan kepada Rasulullah s.a.w.
Kemudian aku berkata kepada ibuku: Jelaskanlah kepada Rasulullah s.a.w.
Ibuku juga menjawab: Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang harus dijelaskan kepada Rasulullah s.a.w.
Lalu aku berkata: Aku adalah seorang gadis muda. Aku tidak banyak membaca Al-Quran. Demi Allah! Aku tahu bahawa kalian telah mendengar semuanya itu sehingga tetap bersemadi di hati kalian, malah kalian mempercayainya. Jika aku katakan kepada kalian bahawa aku tidak bersalah, Allahlah yang mengetahui bahawa aku tidak bersalah, tetapi kalian tetap tidak mempercayaiku. Begitu juga sekiranya aku mengakui melakukan kesalahan, Allahlah yang mengetahui bahawa aku tidak bersalah dan kalian tentu akan mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak mempunyai contoh yang tepat untuk aku dan kalian kecuali kata-kata yang disebut oleh ayah Nabi Yusuf a.s: ÝóÕóÈúÑñ Ìóãöíáñ æóÇááøóåõ ÇáúãõÓúÊóÚóÇäõ Úóáóì ãóÇ ÊóÕöÝõæäó (Yang bermaksud: Kalau begitu bersabarlah aku dengan sebaik-baiknya dan Allah jualah yang dipohonkan pertolongan mengenai apa yang kamu katakan itu).
Saidatina Aisyah berkata: Kemudian aku beredar lalu berbaring di tempat tidurku. Saidatina Aisyah berkata: Demi Allah! Pada saat itu aku yakin diriku tidak bersalah dan Allah akan menunjukkan bahawa aku tidak bersalah. Tetapi Demi Allah! Aku tidak menyangka bahawa wahyu akan diturunkan tentang permasalahanku kerana persoalanku adalah terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah s.w.t.
Namun begitu aku mengharapkan agar Rasulullah s.a.w melihat dalam mimpinya bahawa Allah s.w.t membersihkan aku dari fitnah itu. Saidatina Aisyah berkata: Demi Allah! Rasulullah s.a.w tidak beredar dari tempat duduk baginda dan tidak ada seorangpun di kalangan keluarga kami keluar. Apabila Allah s.w.t menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya, baginda kelihatan berubah. Baginda duduk membongkok sambil berpeluh bagaikan mutiara pada musim sejuk kerana beratnya menerima firman Allah s.w.t yang diturunkan kepada baginda.
Saidatina Aisyah berkata: Setelah itu Rasulullah s.a.w terus ketawa. Ucapan pertama baginda selepas menerima wahyu tersebut ialah sabdanya: Bergembiralah, wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah s.w.t telah membersihkan kamu! Lalu ibuku berkata kepadaku: Bangunlah berjumpa Rasulullah s.a.w.
Aku menjawab: Demi Allah! Aku tidak akan bangun berjumpa baginda. Aku hanya akan memuji kepada Allah s.w.t kerana Dialah yang menurunkan ayat Al-Quran menyatakan kebersihanku. Lalu Allah s.w.t menurunkan ayat Åöäøó ÇáøóÐöíäó ÌóÇÁõæÇ ÈöÇáúÅöÝúßö ÚõÕúÈóÉñ ãöäúßõãú (Yang bermaksud: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita yang amat dusta itu ialah segolongan dari kalangan kamu) sebanyak sepuluh ayat. Allah s.w.t menurunkan ayat-ayat tersebut yang menyatakan kebersihanku.
Saidatina Aisyah berkata: Lalu Sayidina Abu Bakar orang yang selalu memberi nafkah kepada Mistah kerana dia adalah salah seorang daripada kaum keluarga Abu Bakar dan seorang miskin berkata: Demi Allah! Aku tidak akan memberikan nafkah kepadanya lagi selepas dia memfitnahkan Saidatina Aisyah r.a.
Sebagai teguran terhadap tindakan itu Allah s.w.t menurunkan ayat æóáóÇ íóÃúÊóáö ÃõæáõæÇ ÇáúÝóÖúáö ãöäúßõãú æóÇáÓøóÚóÉö Ãóäú íõÄúÊõæÇ Ãõæáöí ÇáúÞõÑúÈóì sehingga ayat ÃóáóÇ ÊõÍöÈøõæäó Ãóäú íóÛúÝöÑó Çááøóåõ áóßõãú (Yang bermaksud: Dan janganlah orang-orang yang berharta serta lapang hidupnya di antara kamu bersumpah tidak mahu lagi memberi bantuan kepada kaum keluarga sehinggalah kepada firman Allah s.w.t yang bermaksud: Tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa kamu).
Hibban bin Musa berkata: Abdullah bin Al-Mubarak menyebut: Inilah ayat yang paling aku harapkan dalam Kitab Allah.
Abu Bakar berkata: Demi Allah! Memang aku inginkan keampunan Allah s.w.t. Lalu Abu Bakar kembali memberikan nafkah kepada Mistah sebagaimana biasa dan berkata: Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya.
Saidatina Aisyah berkata: Rasulullah s.a.w pernah bertanya Zainab binti Jahsyin isteri Nabi s.a.w tentang masalahku: Apakah yang engkau ketahui atau apakah pendapatmu?
Zainab menjawab: Wahai Rasulullah! Aku selalu menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah! Apa yang aku ketahui hanyalah kebaikan.
Saidatina Aisyah berkata: Dialah dari kalangan isteri-isteri Nabi s.a.w yang membanggakan aku.
Allah s.w.t mengurniakan kepadanya sifat warak berbanding dengan saudara perempuannya iaitu Hamnah binti Jahsyin yang turut serta menyebarkan fitnah. Maka celakalah dia bersama orang-orang yang celaka!
(Riwayat Muslim)
Carian Daerah
atau anda boleh mengesan zon waktu solat di sini
Kesan Zon Waktu Solat
Kesan zon waktu solat berdasarkan melalui GPS peranti anda sekarang. Tekan button di bawah untuk mula kesan.
atau anda boleh masukkan nama daerah yang anda ketahui di sini
